Penulis: Etika Revaldina / 21020122120018 (mahasiswa Arsitektur, Fakultas Teknik, KKN-Reguler TIM 1 2026)

Desa Karangturi (26/01/2026), Desa Karangturi, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten dikenal sebagai desa dengan aktivitas UMKM rumahan yang hidup dan beragam. Di sepanjang permukiman, warga menggerakkan roda ekonomi melalui usaha kecil seperti produksi tempe, telur asin, kue nastar, rengginang, keripik pisang, hingga pakan ternak. Usaha-usaha ini tumbuh dari dapur rumah warga dan menjadi sumber penghasilan penting bagi keluarga, sekaligus memperkuat ekonomi desa. Meski berjalan konsisten, sebagian besar UMKM masih berkembang secara swadaya dengan tata ruang produksi dan tampilan usaha yang terbentuk alami mengikuti kebutuhan, belum melalui perencanaan desain yang matang.
Salah satu aktivitas produksi yaitu UMKM tempe di rumah Pak Casminto berlangsung setiap hari dalam ruang yang tumbuh seadanya mengikuti kebutuhan produksi. Ember rendaman, tungku perebusan, dan area fermentasi berbagi tempat, membuat alur kerja kerap saling bertabrakan.


Gambar 1. Pemaparan Hasil Re-design Layout Rumah Produksi Tempe

“Kalau lagi ramai produksi, jalannya jadi sempit,” ujar Pak Casminto saat diwawancarai pada Senin (26/01/2026). Kondisi serupa terlihat pada UMKM Telur Asin Adinda milik keluarga Pak Edo. Produknya dikenal warga sekitar, namun tampilan visual usaha belum cukup menonjol untuk menarik perhatian pembeli baru. Melihat kondisi tersebut, Etika menginisiasi program kerja monodisiplin 2 dengan judul ”Optimalisasi Ruang dan Visual UMKM sebagai Upaya Peningkatan Daya Tarik Usaha Lokal”

Dari Denah ke Identitas Visual
Melalui observasi lapangan dan diskusi langsung dengan pelaku usaha, Etika Revaldina, mahasiswa Arsitektur yang tergabung dalam TIM 1 KKN Universitas Diponegoro 2026 menyusun katalog rekomendasi redesain denah rumah produksi tempe. Tata ruang diusulkan mengikuti urutan proses produksi, mulai dari bahan baku, perebusan, fermentasi, hingga penyimpanan, sehingga pergerakan kerja menjadi lebih logis dan higienis (gambar 1).
Sementara itu pada UMKM telur asin, fokus diarahkan pada perancangan banner baru sebagai media branding. Desain dibuat dengan komposisi warna kontras, tipografi yang mudah dibaca dari jarak jauh, serta penonjolan nama usaha agar lebih mudah dikenali konsumen (gambar 2).


Gambar 2. Penyerahan Banner Visual UMKM Telur Asin

Pelaku usaha dilibatkan secara aktif dalam setiap tahap, mulai dari identifikasi kebutuhan hingga evaluasi desain. Masukan mereka menjadi dasar penyesuaian agar solusi yang diberikan realistis dan sesuai kondisi lapangan.
UMKM Naik Kelas dari Penataan Sederhana
Bagi pelaku usaha, perubahan ini bukan sekadar estetika. Tata ruang yang lebih rapi membantu mempercepat proses produksi, sementara visual usaha yang lebih kuat meningkatkan kepercayaan konsumen.
Pak Edo mengaku desain banner baru membuat usahanya terlihat lebih profesional. “Sekarang orang lewat langsung tahu jualannya apa,” katanya.
Kolaborasi mahasiswa dan pelaku UMKM di Karangturi menjadi contoh bahwa desain memiliki peran sosial yang nyata. Dari dapur produksi hingga tampilan depan usaha, perubahan kecil mampu menghadirkan dampak besar bagi keberlanjutan ekonomi desa. UMKM tidak hanya bertahan, tetapi perlahan belajar tampil lebih tertata, lebih percaya diri, dan siap berkembang.

Dosen Pembimbing Lapangan: Ichlasul Ayyub, M.Si